Menunggu? Atau Meninggalkan?

Menunggu itu menyakitkan, meninggalkan juga. Tetapi yang paling menyakitkan adalah ketika tidak tahu harus menunggu atau meninggalkan.

Quote diatas adalah quote yang sudah saya posting sebelum tulisan ini, quote yang saya temukan di display picture salah seorang teman saya. Dua kalimat yang singkat dan cukup bisa membuat saya terperanjat. Sebelum ini, saya tidak pernah menyadari kalau menunggu dan meninggalkan itu menyakitkan bahkan lebih dari yang selama ini kita fikir kalau ‘patah hati’ adalah level tertinggi dari sebuah rasa sakit.

Read More

Sepotong galau lainnya

Hari itu,
Semuanya masih terlihat merah muda begitu padu dengan sinar mata kita yang tak lepas satu sama lain. Burung berkicau seolah ikut berbahagia atas terpautnya dua hati anak manusia. Angin semilir seakan menggulirkan rasa hangat dari kobar asmara dalam dada masing-masing. Lalu beberapa hal yang kita sebut-sebut sebagai janji cinta kita.

Setidaknya itulah yang kutangkap saat aku memberanikan diri kembali,
duduk bersidekap dibatas bibir pantai yang pernah menjadi saksi dimana bibir kita terpaut pertama kali. Sebenarnya kalau saja aku mau … aku bisa masuk lagi  lebih dalam ke setiap ruang dalam benakku untuk mencari-cari hal apalagi yang terjadi hari itu atau bahkan hari-hari setelah itu.
Hanya saja, aku tidak cukup kuat untuk menemukan wajahmu lebih banyak lagi dalam kepala ini. Baru sekitar 20 menit disini saja, aku sudah terhimpit bayangmu yang muncul setiap dimensiku.
Bagaimana lagi jika aku masih nekat??

Aku kemari untuk menyelesaikan rindu yang sudah ada jauh sebelum hari ini, sejak hari dimana kita memutuskan untuk tidak lagi menjadi ‘kita’. Mulanya kupikir ini hanya sekelebat bayangan masa lalu, aku tak harus ambil pusing tentunya. Tetapi justru disaat aku mulai mengambil langkah seribu untuk menjauhinya, aku merasa ada sebuah tali yang mengikat kakiku yang lama kusadari bahwa itulah yang disebut kenangan.

Dimanapun kau hari ini,
aku percaya kita masih dibawah langit yang sama, aku pun percaya hatimu belum terlalu dingin untuk merasakan ada hati yang sedang mencoba memanggil namamu ditengah rindu yang sedikit lagi mematikan ini. Bagaimana kabarmu? Disini rindu, bila sama dengan yang disana. Sila temui aku….

Sepotong galau

Sebelum ini,
Aku pernah menemukan beberapa yang kupikir itulah sebagianku lainnya.
melewati malam lalu membiarkan diri tenggelam dalam dada yang menyimpan nama lain…
menyaksikanmu yang bercumbu dengan nama tadi serupa pisau yang menari disetiap inci hatiku.

Sebelum ini,
Aku hanya seorang puan yang percaya kalau tuan yang setiap hari didoakannya adalah tuan yang sama dengan tuan yang dimaksudkan Tuhan untukku.
Karena aku percaya kalau masing-masing doa tidak akan pernah salah tuju.

Sebelum ini,
Aku adalah tempat kembalinya kau saat kau merasa jenuh dengan dunia yang bahkan aku sendiri tidak pernah ada didalamnya, duniamu.
Aku seperti bulan yang kesiangan karena buai namamu dalam malam yang tak berbintang.

Namun…..

Setelah tiga bait diatas.
Aku harus berbesar hati ketiganya adalah hal yang tidak perlu kuteruskan.
Setidaknya untuk kebaikan hati ini (sendiri).