anshar93
“Kemuliaan kita, diukur dari apa yang kita risaukan. Apakah kerisauan kita hanya tentang diri kita. Apakah kerisauan kita tentang diri kita yang sangat duniawi. Apakah kerisauan kita tentang akhirat. Apakah kerisauan kita tentang sesama dunia akhirat yang meminta seluruh energi kita, fikiran kita, waktu kita.”
— Hasan Al Banna
(via anshar93)

Untuk kamu,

Sepotong malam yang tak lagi sama seperti malam kita sebelumnya…

Sekiranya sekarang telah lewat pukul empat dini hari. Diluar sana, hujan baru saja menyelesaikan rindunya dgn tanah yang sudah hampir tiga hari ini tidak bercumbu. Sedangkan disini, perempuan setengah mengantuk sedang berputar-putar dengan fikirannya sendiri melewati apa-apa saja yang pernah ada kamu ataupun sudah sempat menjadi kita dalam kenang.

Bagaimana caranya bisa tidur nyenyak malam ini, kalau saja besok pun bangun hanya utk mencari-cari alasan untuk tidak lagi ada kamu dalam kita yang sudah tiga tahun ini menjadi salah satu zona nyaman dalam hidupku.

Esok pun saya bangun dan memasuki satu hari lebih dekat tanpa dirimu, tanpa kita.
Semuanya baik-baik saja, semuanya tanpa terkecuali.
saya selalu merasa nyaman menjadi sebagian dari kita selama tiga tahun terakhir ini, saya pun bahagia dgn lebih-kurangnya kamu.
Tapi,
Itu hanya pemikiran saya yang memerah karena asmara. Begitulah. Kata mereka, selama masih beralaskan cinta semuanya pasti masih indah dan baik-baik saja. Padahal kenyataannya setelah ini, hidup bukan perihal cinta dan segala hal manis di dalamnya. Banyak hal yang harus dipertimbangkan, soal tanggung jawab, kelayakan, kenyamanan, cita-cita dan masa depan.

Entah bagaimana menjelaskannya bahkan dengan diri sendiri pun, saya masih memilih-milih kata agar nanti saya menjadi seseorang yang tidak menyesal dgn keputusan yang saya pilih sendiri atas dasar pertimbangan-pertimbangan diatas.

Saya hanya perempuan 23 tahun, tidak punya banyak pengalaman dlm hidup tp saya punya banyak orang yg bisa saya lihat sebagai pembelajaran hidup. Untuk itu, saya kira sudah saatnya saya memilih apa-apa saja yang paling baik dlm hidup saya.

Mungkin,
Untuk bahagia, kita benar harus merelakan sesuatu yang justru kita fikir adalah yang paling membahagiakan kita.
Mungkin,
Untuk bertemu seseorang yg tepat kita benar harus dipertemukan dgn orang yang salah. Setiap orang yg kau temui adalah guru, sekecil apapun selalu ada saja hal baik yg bisa kau tiru.
Melalui kamu, aku pernah tau bagiamana mencintai dengan setulus-tulusnya hati. Melalui kamu juga, aku mengerti bagaimana bisa menyayangi seseorang dgn ikhlas. Melalui kamu pula, aku pernah merasakan menjadi permpuan paling dimanja dan paling diperlakukan special dgn hati yg paling tulus.

Sampai waktu ini tiba,
Kita harus bertemu dgn titik yang paling sulit. Di lain sisi, aku kecewa. Kebahagian kita selama ini serupa bom waktu yang sewaktu-waktu bisa mematikan kita kapan saja tak berbekas.

Kita kalah dengan keadaan dan kenyataan.
Kita bukan salah arah, kita hanya terlalu terlena dgn kebersamaan yg justru tidak membawa kita ke tujuan.
Maafkan utk selama ini, aku mungkin pernah mencintaimu dan sering melukaimu sesering aku menyebut cinta utkmu. Terimakasih telah membahagiakanku selama tiga tahun ini, atas nama semesta; aku bersumpah kalau benar memang hanya kau lah yang paling membuatku merasa tersanjung dan dihargai sbg perempuan.

Maafkan juga aku yg menyerah lalu memilih mundur dari kita. Semoga Tuhan bermurah hati utk mengganti luka hati kita dgn kebahagiaan kita masing-masing.


Amin.

Selamat semakin tua, kawan selama berbelas-belas tahun ini.
Selamat menikmati hidup lalu bercintalah dengan semesta karena kelak selalu banyak hal baik yang sudah disiapkan Tuhan untukmu yang lahir 23 tahun lalu.

Selamat semakin tua, kawan selama berbelas-belas tahun ini.
Selamat menikmati hidup lalu bercintalah dengan semesta karena kelak selalu banyak hal baik yang sudah disiapkan Tuhan untukmu yang lahir 23 tahun lalu.